Ditemani angin yang datang dengan bisikan

Aku kumpulkan remah-remah yang ditinggalkannya

Melihatnya pergi menari bersama bulan, awan, bintang dan kunang-kunang

Jauh diantara mega, aku bisa melihat sayapnya yang lebar memancarkan pendar-pendar serbuk bintang.. indah

Angin membisik pelan “kamu bisa”

Maka kuperintahkan sayap rapuhku untuk terbang.. membumbung pelan menujunya

Angin bernyanyi lirih “menarilah..bergembiralah..tunjukkan warnamu yang seindah pelangi”

Aku tidak ingin seindah pelangi, aku hanya ingin bersamanya lagi..

“Perjalanan sejatinya untuk dinikmati..”, angin mengecup lembut pipiku

Kecupannyalah yang mengingatkanku pada lelaki pendar serbuk bintang

Dan tanpa sadar..aku mulai menari..berwarna..

Entah kapan..dan bagaimana aku bisa mengejar lelaki pendar serbuk bintang

Selama aku masih bisa melihatnya diantara mega, kabut, siang dan malam..

Diantara embun, kelopak bunga, dan lembutnya kecupan angin..

Aku tahu dia tidak pernah pergi terlalu jauh..